Hatebreed - Supremacy(Roadrunner Records 2006)
Kalo udah jago emang pantas menandakan supremasi
Hidup itu mudah. Ketika sesuatu nampak menyebalkan, maka coba pandanglah dari sisi yang berbeda, mungkin yang tadinya menyebalkan bisa jadi indah. Begitu juga dengan metalcore. Ketika memandang genre tersebut sebagai "metal campur hardcore" dan melihat 135.671 (and still counting) band metalcore sekarang, mungkin akan banyak yang frustrasi. Yang tadinya nampak begitu menjanjikan, tiba2 saja jadi begitu jinak. Musti diakui, nggak banyak band yang bagus. Kalau ada yang kecewa, well percayalah, anda tidak sendiri.
Sekarang, coba pandang metalcore sebagai "hardcore campur metal", dunia lebih cerah? Tergantung. Tapi melihat kasus kita sekarang: Hatebreed dan album barunya, Supremacy, saya akan lebih senang :D
Hatebreed memang sudah sejak '97 menampilkan musik seperti ini (hell, Biohazard juga udah mainin musik kaya gini dari kapan tau) Old School NY hardcore a la Madball dicampur dengan trash/speed metal a la Slayer. Hasilnya selalu simpel. Selalu brutal. Tidak terkecuali album ini. Menampilkan the legendary Frank "3 Guns" sebagai gitaris baru mendampingi Sean Martin, tidak membuat mereka lantas terjebak dalam kesibukan membuat aransemen 2 gitar yang njelimet. Instead, they keep it simple, sehingga 2 gitar membuat sound keseluruhan makin lebar, sehingga malah jadi makin gagah. Dan digabung dengan seksi ritem yang memang solid, jadilah mereka Godzilla. Godzilla versi Jepang tentunya, penampilan sederhana, namun tetap destruktif. Disana sini isinya cuma gempuran picking gitar super cepat dan presisi yang rada kaya Slayer (contoh terbaik: the crushing opening song, "Defeatist") dan juga ada ketukan2 sinkop yang menambah dimensi album sehingga tidak membosankan.
Elemen hardcore ditampilkan secara utuh di sini. Lirik2 yang berpusat dengan tema pride berhasil dimuntahkan dengan baik oleh Jamey Jasta si vokalis ("...cause you hate yourself/and you hate this
world/and you hate the fact/that you hate every moment..." dari lagu "Defeatist" menurut saya adalah salah satu lirik terbaik yang pernah saya dengar). Meski vokalnya rada beda dari album sebelumnya (awalnya saya sempat kagok malah), di sini vokalnya terdengar kurang gahar, yang saya curigai diubah ketika mixing untuk memberi tempat pada sound gitar sehingga tidak "nabrak" secara keseluruhan. Gang vocal juga muncul, yeah..mantap lah. Menariknya, mereka tidak lantas membuat semuanya nampak begitu seragam, terpaku pada pakem hardcore pada umumnya, karena kalo mau gitu album ini akan terasa begitu membosankan. Kadang2 mereka sedikit bermain dengan ketukan sinkop (lagu terakhir yang bagus banget "Supremacy of Self"), dan sedikit melodi (yap, sedikit, ga lebih ga kurang) di lagu "Destroy Everything" dan "Never Let It Die". Usaha ini patut diacungi jempol lho, soalnya kalo takarannya ngga pas, bisa jadi ni album jeblok. Terlalu banyak melodi bisa dicemooh, terlalu patuh pada pakem dan kbanyakan hardcore breakdown bisa bikin bosen. Untunglah mereka bisa meramu metal dan hardcore dengan takaran yang pas. Meski memang ngga bisa dipungkiri kalo sedikit di awal album (Setelah track 1) kerasanya kaya agak kehilangan fokus (meski lagunya juga tetep enak), tapi setelah track ke 4/5, semua kembali ke jalur awal.
Jadi buat semua headbanger di mana pun, you're definitely in for a treat here. Sebuah album solid dari band yang memang kuat dan makin membuktikan supremasi-nya Hatebreed. Kalau kurang, well Full Blown Chaos, Terror, atau bahkan Walls of Jericho juga baru ngerilis album, jadi silakan icip icip dah tuh...
On my playlist: "Defeatist" (ini sendiri udah bisa jadi alesan kuat buat beli ni album), "Never Let It Die", "Supremacy of Self".
Sekarang, coba pandang metalcore sebagai "hardcore campur metal", dunia lebih cerah? Tergantung. Tapi melihat kasus kita sekarang: Hatebreed dan album barunya, Supremacy, saya akan lebih senang :D
Hatebreed memang sudah sejak '97 menampilkan musik seperti ini (hell, Biohazard juga udah mainin musik kaya gini dari kapan tau) Old School NY hardcore a la Madball dicampur dengan trash/speed metal a la Slayer. Hasilnya selalu simpel. Selalu brutal. Tidak terkecuali album ini. Menampilkan the legendary Frank "3 Guns" sebagai gitaris baru mendampingi Sean Martin, tidak membuat mereka lantas terjebak dalam kesibukan membuat aransemen 2 gitar yang njelimet. Instead, they keep it simple, sehingga 2 gitar membuat sound keseluruhan makin lebar, sehingga malah jadi makin gagah. Dan digabung dengan seksi ritem yang memang solid, jadilah mereka Godzilla. Godzilla versi Jepang tentunya, penampilan sederhana, namun tetap destruktif. Disana sini isinya cuma gempuran picking gitar super cepat dan presisi yang rada kaya Slayer (contoh terbaik: the crushing opening song, "Defeatist") dan juga ada ketukan2 sinkop yang menambah dimensi album sehingga tidak membosankan.
Elemen hardcore ditampilkan secara utuh di sini. Lirik2 yang berpusat dengan tema pride berhasil dimuntahkan dengan baik oleh Jamey Jasta si vokalis ("...cause you hate yourself/and you hate this
world/and you hate the fact/that you hate every moment..." dari lagu "Defeatist" menurut saya adalah salah satu lirik terbaik yang pernah saya dengar). Meski vokalnya rada beda dari album sebelumnya (awalnya saya sempat kagok malah), di sini vokalnya terdengar kurang gahar, yang saya curigai diubah ketika mixing untuk memberi tempat pada sound gitar sehingga tidak "nabrak" secara keseluruhan. Gang vocal juga muncul, yeah..mantap lah. Menariknya, mereka tidak lantas membuat semuanya nampak begitu seragam, terpaku pada pakem hardcore pada umumnya, karena kalo mau gitu album ini akan terasa begitu membosankan. Kadang2 mereka sedikit bermain dengan ketukan sinkop (lagu terakhir yang bagus banget "Supremacy of Self"), dan sedikit melodi (yap, sedikit, ga lebih ga kurang) di lagu "Destroy Everything" dan "Never Let It Die". Usaha ini patut diacungi jempol lho, soalnya kalo takarannya ngga pas, bisa jadi ni album jeblok. Terlalu banyak melodi bisa dicemooh, terlalu patuh pada pakem dan kbanyakan hardcore breakdown bisa bikin bosen. Untunglah mereka bisa meramu metal dan hardcore dengan takaran yang pas. Meski memang ngga bisa dipungkiri kalo sedikit di awal album (Setelah track 1) kerasanya kaya agak kehilangan fokus (meski lagunya juga tetep enak), tapi setelah track ke 4/5, semua kembali ke jalur awal.Jadi buat semua headbanger di mana pun, you're definitely in for a treat here. Sebuah album solid dari band yang memang kuat dan makin membuktikan supremasi-nya Hatebreed. Kalau kurang, well Full Blown Chaos, Terror, atau bahkan Walls of Jericho juga baru ngerilis album, jadi silakan icip icip dah tuh...
On my playlist: "Defeatist" (ini sendiri udah bisa jadi alesan kuat buat beli ni album), "Never Let It Die", "Supremacy of Self".


1 Comments:
boss tolong bahas tentang
band ZAO dong!!!
Post a Comment
<< Home