The Strokes -
First Impression of EarthYup Yup, album ketiga The Strokes, dan sebagaimana album ketiga pada umumnya, mereka memutuskan untuk bereksperimen, mengeksplor permainan instrumen musik mereka sehingga tidak terdengar seperti album-album sebelumnya. Kemungkinan gagal dalam eksperimen memang selalu ada, tapi The Strokes, bukan band kacangan. Ini adalah sekumpulan anak muda dengan kemampuan berekspresi yang luar biasa, sehingga tentunya eksperimen mereka bisa dipertanggungjawabkan.
Dibuka dengan track yang ceria, upbeat, meskipun Julian Casablancas masih bernyanyi dengan ciri khasnya, tapi feel ceria masih dengan mudah dihasilkan. Tapi ups, jangan salah, karena ini bukan album yang ceria, ini adalah album yang gelap, dengan geraman Julian yang mendominasi seluruh lagu. Bukan geraman biasa, ini adalah geraman yang tertata rapi hingga menimbulkan ledakan-ledakan kecil, pemberontakan pada tempatnya, sebuah perasaan yang timbul ketika kita mengetahui bahwa kita sedang dalam perjalanan di dunia The Strokes. Tapi awas, perjalanan ini tak semenarik 2 album sebelumnya, ada kalanya perasaan frustrasi muncul akibat emosi yang cenderung stagnan, malas-malasan, terutama dari seksi vokal. Untungnya, The Strokes cukup jeli memperhatikan hal itu, sehingga untuk mengatasi vokal yang monoton, seksi instrumen dibuat sedinamis mungkin. Mereka benar-benar mengeksplor alat musik yang dimainkan hingga berhasil menciptakan ruang sendiri di tengah kegelapan yang diciptakan vokal Casablancas. Duet gitaris Alber Hammond Jr. dan Nick Valensi berhasil melaksanakan teamwork yang benar-benar fresh bila dibandingkan album sebelumnya. Kini permainan mereka semakin rumit namun sederhana di saat yang bersamaan, serangan gitar kembar yang berhasil. Contoh terbaik untuk hal ini ialah lagu Vision of Division di mana ada solo gitar dengan nada timur tengah dan riff gitar yang fast-picking. Singel pertama, Juicebox, dan juga lagu 15 Minutes Dream serta Ize of The World juga patut disimak untuk mengetahui sehebat apa eksperimen The Strokes ini berhasil. Dan setelah perjalanan panjang dan gelap, cukup lega mendengar lagu terakhir yang kembali terasa ceria dan juga lagu yang paling catchy di album ini.

Dari segi sound, jelas pendewasaan sekaligus eksperimen mereka sangat terasa. Sound-sound garage yang busuk dan mentah, sedikit diperbaharui dengan sentuhan-sentuhan modern, meskipun gaya bermain mereka masih sama (kecuali untuk hal-hal extraordinaire seperti di atas). Jangan kaget juga melihat mereka bermain feedback gitar dan efek-efek aneh, karena ini bagian dari percobaan. Berhasilkah? YA.
Overall, album yang berisi 14 lagu ini (jumlah lagu terbanyak di album The Strokes) mampu memuaskan telinga saya. Kalau kamu fans The Strokes seperti saya, tentu kamu akan suka. Mungkin akan terasa sulit di awal-awal, tapi try harder and you may found something in here. Yang jelas, bukan untuk mereka yang ingin mencicipi The Strokes untuk pertama kali.


2 Comments:
i love the strokes
Kalau kamu fans The Strokes seperti saya, tentu kamu akan suka. Mungkin akan terasa sulit di awal-awal, tapi try harder and you may found something in here..
gw setuju sama kata2 di atas..^_^
Post a Comment
<< Home