Tuesday, July 18, 2006


The Strokes - First Impression of Earth

Yup Yup, album ketiga The Strokes, dan sebagaimana album ketiga pada umumnya, mereka memutuskan untuk bereksperimen, mengeksplor permainan instrumen musik mereka sehingga tidak terdengar seperti album-album sebelumnya. Kemungkinan gagal dalam eksperimen memang selalu ada, tapi The Strokes, bukan band kacangan. Ini adalah sekumpulan anak muda dengan kemampuan berekspresi yang luar biasa, sehingga tentunya eksperimen mereka bisa dipertanggungjawabkan.

Dibuka dengan track yang ceria, upbeat, meskipun Julian Casablancas masih bernyanyi dengan ciri khasnya, tapi feel ceria masih dengan mudah dihasilkan. Tapi ups, jangan salah, karena ini bukan album yang ceria, ini adalah album yang gelap, dengan geraman Julian yang mendominasi seluruh lagu. Bukan geraman biasa, ini adalah geraman yang tertata rapi hingga menimbulkan ledakan-ledakan kecil, pemberontakan pada tempatnya, sebuah perasaan yang timbul ketika kita mengetahui bahwa kita sedang dalam perjalanan di dunia The Strokes. Tapi awas, perjalanan ini tak semenarik 2 album sebelumnya, ada kalanya perasaan frustrasi muncul akibat emosi yang cenderung stagnan, malas-malasan, terutama dari seksi vokal. Untungnya, The Strokes cukup jeli memperhatikan hal itu, sehingga untuk mengatasi vokal yang monoton, seksi instrumen dibuat sedinamis mungkin. Mereka benar-benar mengeksplor alat musik yang dimainkan hingga berhasil menciptakan ruang sendiri di tengah kegelapan yang diciptakan vokal Casablancas. Duet gitaris Alber Hammond Jr. dan Nick Valensi berhasil melaksanakan teamwork yang benar-benar fresh bila dibandingkan album sebelumnya. Kini permainan mereka semakin rumit namun sederhana di saat yang bersamaan, serangan gitar kembar yang berhasil. Contoh terbaik untuk hal ini ialah lagu Vision of Division di mana ada solo gitar dengan nada timur tengah dan riff gitar yang fast-picking. Singel pertama, Juicebox, dan juga lagu 15 Minutes Dream serta Ize of The World juga patut disimak untuk mengetahui sehebat apa eksperimen The Strokes ini berhasil. Dan setelah perjalanan panjang dan gelap, cukup lega mendengar lagu terakhir yang kembali terasa ceria dan juga lagu yang paling catchy di album ini.


Dari segi sound, jelas pendewasaan sekaligus eksperimen mereka sangat terasa. Sound-sound garage yang busuk dan mentah, sedikit diperbaharui dengan sentuhan-sentuhan modern, meskipun gaya bermain mereka masih sama (kecuali untuk hal-hal extraordinaire seperti di atas). Jangan kaget juga melihat mereka bermain feedback gitar dan efek-efek aneh, karena ini bagian dari percobaan. Berhasilkah? YA.

Overall, album yang berisi 14 lagu ini (jumlah lagu terbanyak di album The Strokes) mampu memuaskan telinga saya. Kalau kamu fans The Strokes seperti saya, tentu kamu akan suka. Mungkin akan terasa sulit di awal-awal, tapi try harder and you may found something in here. Yang jelas, bukan untuk mereka yang ingin mencicipi The Strokes untuk pertama kali.

AFI - Decemberunderground vs lostprophets - Liberation Transmission

Kenapa AFI vs lostprophets ?
Padahal kan yang satu lebih ke nu metal (lostprophets), sementara kan yang satu punk (AFI). Sebenernya kalo mau egois mah jawabannya simpel aja, soalnya gw beli dua kaset ini barengan, jadi kan lebih asik tuh kalo gw ngebandinigin 2 benda yang gw beli dalam waktu bersamaan. Tapi sebenernya, ada alasan yang lebih mendalam. Personally, album sebelumnya dari kedua band ini bener2 menarik perhatian gw, I enjoy both albums so much, it also gets a heavy rotation in my tape and in my winamp. Album Start Something-nya lostprophets dan Sing The Sorrow-nya AFI (ini singkatan dari A Fire Inside yah, bukan Akademi Fantasi Indo****) bahkan masih gw dengerin sampe skarang. 2 album yang bgitu influensial bagi saya. Saking influensialnya, band saya bahkan sempat meng-cover lagu dari 2 album ini, hehe... ;p
Lebih lanjut, kalau diliat, kedua band ini adalah band yang terus berevolusi, AFI dulu hardcore juga musiknya, sementara lostprophets album pertamanya nu-metal pisan dan cukup sulit ditebak arah lagunya. Makin kesini, kedua band makin memperhalus musiknya dengan tetap mempertahankan keagresifan tentunya. Menariknya, keduanya mengambil unsur pop dan emo untuk tujuan tadi. Album sebelumnya berhasil mnurut saya. Keras dapet, tapi easily accessible juga. Kini keduanya merilis album dalam waktu cukup dekat (yang cukup saya nantikan juga), lantas bagaimana hasilnya?


AFI - Decemberunderground
Sebuah album ke-7 dari AFI. Dari pertama kali mulai juga saya tahu ini akan menjadi perjalanan yang panjang dan gelap. Sebuah tembang yang gelap dan pelan membuka ternyata membawa saya ke sebuah percobaan yang kembali sukses. Coba, gimana ngga sukses? Musiknya secara kuping enak dan mudah diterima, dan yang paling penting konsep yang kuat terasa ada di belakang ini semua. It's still punk, but with a little touch of pop and electronics dan bahkan sedikit ketukan drum disco (yang emang lagi ngetrend) di lagu "The Missing Frame". Vokal si Davey Havok memang menjadi senjata utama AFI. Ini yang membedakan mereka dengan band2 punk mainstream yang sering terdengar belakangan ini. Rada emo (terutama kalo lagi screaming) tapi begitu bernyanyi biasa terdengar sangat unik, clean dan terasa agak gothic, tetap berwibawa, tetap catchy, tetap Davey Havok. Lalu, musiknya terasa simpel. Apa? simpel? Ralat. Begitu saya tilik lagi, ternyata tidak. Ternyata gw nemuin berlapis-lapis sound gitar yang bisa membentuk tekstur-tekstur menarik dan suasana yang gelap seperti layaknya AFI. Lalu ada pergantian ketukan (time Signature) yang cukup sedikit terasa dan juga pegantian kunci yang otomatis membawa perubahan suasana. Blum lagi bila melihat betapa piawainya si gitaris Jade Puget yang juga konseptor musik mereka meramu hal-hal yang simpel menjadi rumit. Contoh primernya ya singel pertama mereka "Miss Murder" (track ketiga). Awalnya terasa agak Green Day, tapi begitu di tengah lagu tiba-tiba suasana berganti, jadi kelam dan sedikit lebih lamban, lalu kembali lagi menjadi suasana semula. Ini dilakukan dengan transisi yang cukup rumit namun mulus. Hebat. Lagu berikutnya, "Summer Shudder" adalah contoh betapa bagusnya musik mereka. Gitarnya simpel, catchy tapi justru bisa menjadi nyawa pada chorusnya. Oh my god, mendengar 2 lagu bagus diurutkan, it's like getting a 1-2 punch from Mike Tyson,hehe...
Sedikit komplain, memasuki sepertiga terakhir album, gw mulai merasa kadar rocknya agak berkurang. Meski masih menyisakan track "37 mm" dan "Rabbits Are Roadkill on Rt. 37" (the last track which rocks like hell), tapi tetap terasa agak lebih lamban. Mungkin mereka memilih untuk lebih reflektif, gelap, sebuah ciri khas dari AFI yang bagusnya masih bisa dipertahankan. Usaha yang pasti akan dihargai oleh fansnya.
Overall, ini adalah album yang bagus, makanya saya nggak banyak berkomentar. Fans AFI yang lama pasti akan menyukainya. Buat mereka yang baru, mungkin butuh sedikit penyesuaian untuk bisa menghargai band bagus ini.

lostprophets - Liberation Transmission
Pertama kali memutar album ini, saya langsung puas. Damn! This is such a great rocking album. Serangan 2 gitar yang makin ganas, lebih rumit dari album sebelumnya kalo mnurut gw. Kalo dulu agak mudah ditebak Lee Gaze mainin melodi dan Mike Lewis lebih ke ritem, sekarang formulasinya agak susah ditebak, hasilnya pun jadi maksimum, mebuktikan bahwa kamu masih bisa nge-rock tanpa harus bermain chord. Filosofi yang sama dari album sebelumnya pun ditemui di sini: tidak perlu distorsi tebal untuk bisa keras. Simak saja sound gitar mereka yang hanya crunch atau bahkan clean, namun dengan orkestrasi yang tepat antara kedua gitarisnya dan ditambah bantuan dari si kibordis (gw lupa namanya), mereka mampu membombardir kuping saya. Bukti: simak lagu "Broken Hearts, Torn Up Letters and the Story of A Lonely Girl", "Everyday Combat", "The New Transmission" . Mantap bos!! Seksi ritem tidak perlu dikuatirkan, meski drummer mereka baru saja cabut, tapi Josh Freese (drummer A Perfect Circle, Guns 'n Roses, The Vandals) ternyata menjadi pemain adisional di album ini, dan ternyata penampilan basis mereka juga cukup baik, sehingga menghasilkan ritem yang solid. Vokal Ian Watkins terasa lebih dominan di mixing. Di mata saya, ia sukses menyanyikan lirik2 dengan jelas hingga pesan dapat tertangkap, meskipun vokalnya masih begitu-begitu aja, melodius. Selesai? belum.
Masalah baru muncul ketika mempertimbangkan kembali seluruh lagu dan membandingkan dengan album sebelumnya. They rock, indeed. But this time, balutan popnya terasa kuat sekali. Mereka bermain dengan sound2 vintage '80-an dan garage. Bahkan, ada sing-a-long "la-la-la" di lagu "A Town Called Hypocrisy". Sing-a-long chorus menjadi senjata utama mereka untuk bisa bertahan di jalur rock di sini. Mau lebih pop? Lagu "Always All Ways" bahkan diawalai dengan strumming akustik yang lazim ditemui di lagu2 pop. KEtika melihat album credit, ditemui nama Bob Rock sebagai produser. Hmm...nggak heran, orang ini juga yang dituduh telah membuat Metallica lebih nge-pop di album "Black Album", jadi jangan bingung lah, hehe... No Offense loh mas Bob ;p Memang ini membuat albumnya lebih mudah diterima, tapi kalau membandingkan dengan album sebelumnya, terasa kalau lostprophets sedang membuat sound2 baru yang menurut penilaian saya adalah pengembangan dari lagu "Last Summer" dari album sebelumnya. Yang menarik, lagu itu adalah lagu minor dari Start Something, lagu yang secara sound tidak memiliki keterikatan kuat dengan lagu2 lainnya di album itu. Sehingga, meskipun masih ada korelasi dengan album sebelumnya, album ini lebih terlihat sebagai "lostprophets baru" yang lantas membuat saya berpikir "siapa sih sebenarnya lostprophets?"

Jadi?
Ternyata saudara2, harus diakui, AFI mampu membuat karya yang lebih "mereka". Instead of memakai pop sebagai saran perubahan, mereka memilih untuk menjadi AFI yang memakai pop sebagai sedikit unsur pemanis. Di lain pihak, lostprophets malah terdengar sibuk mencari jati diri. Mereka malah menjadi "lostprophets yang terbungkus pop", berbeda dengan AFI yang sukses membungkus pop dengan gaya mereka sendiri. Treatment berbeda yang menimbulkan hasil berbeda. Meski demikian, meski diakui, ada persamaan di antara keduanya. Mereka cukup sukses membuat lagu2 yang cukup rumit. Pergantian kunci, suasana, dan time signature yang cukup rumit di tengah lagu, atau antara verse dan chorus bisa ditemui di kedua labum, meski AFI lebih stand out kalau untuk urusan ini. Mereka juga sama2 memakai gang vocal sing-a-long lho. Dan secara liriknya tema juga mungkin sama2 mirip. Cukup emo lah. Kehilangan. Meski AFI mengemas liriknya lebih puitis dan gelap, sementara lostprophets lebih terang-terangan.
Kesimpulannya, AFI menang. Mereka sukses mendefinisikan dirinya, dan menggunakan elemen di luar punk yang malah memperkuat definisi musik mereka. Meski demikian, it's a close battle though, kedua album ini saya rekomendasikan tinggi buat kamu penggemar rock di luar sana.

Cheers.